Ada Sesuatu yang Aneh

Hati kita tak berjarak lagi hari ini, walaupun hanya untuk sementara. Sebelum aku pulang lalu meninggalkan rindu yang baru. Entah kenapa aku merasa asing dikala kita bersama. Mungkin, hanya perasaanku saja atau memang begitu adanya. Walaupun senang tiada tara sangat kental terasa disaat aku dapat melihat senyum dan tawamu secara riil, aku merasa ada yang mengganjal diantara kita. 

Mata coklatmu selalu menyulut senyum tersipu, rona senyumanmu tetap indah tanpa tergerus waktu, tapi aku tak bisa memahami apa yang ada di balik senyum indahmu. Jari-jarimu masih menjadi tempat favorit untuk selalu ku genggam, namun entah kenapa aku merasakan kehampaan disaat kehangatan kedua tangan yang sudah lama tidak saling menggenggam, kini saling menggenggam. Atas nama kau dan aku telah menjadi kita.

Aku ragu bukan berarti tidak percaya, aku hanya ingin tahu dimana akar pemasalahan ini berasal. Raga kita seakan bertemu namun tidak dengan jiwa, rasanya jiwamu dan jiwaku tidak saling terkoneksi seperti dulu.

Namun hasrat terpaku untuk selalu bertemu karena kedua hati yang kini telah bersatu. Berjalanlah bersamaku, lewati jalan yang berbatu. Hapuskan kesendirianku, kesepianku dan kesengsaraanku disaat dulu, disaat kau memutuskan untuk menyudahi hebatnya harapanku…

Semoga ini hanyalah perasaanku saja sebab aku percaya waktu menggiringmu untuk kembali dengan alasan yang pasti. Entah itu untuk menetap atau untuk lenyap. 

Iklan

Cemas dan Gangguan Kecemasan

Pengertian Cemas

Cemas adalah perasaan gugup atau khawatir yang muncul saat seseorang mengalami ancaman atau bahaya. Jadi, cemas adalah perasaan yang wajar terjadi jika ada alasannya. Perasaan ini biasanya muncul secara alami sebagai reaksi tubuh terhadap stres. Ini bisa membantu seseorang untuk lebih waspada dan mengambil tindak cepat untuk beraksi. Namun, bila rasa cemas muncul secara tiba-tiba (misalnya tidak dalam situasi yang menegangkan) dan sulit dikendalikan sehingga mengganggu kehidupan sehari-hari, maka kondisi ini menandakan adanya gangguan kecemasan.

Pengertian Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan adalah rasa cemas secara berlebihan terhadap ancaman yang belum tentu nyata. Seringkali istilah cemas itu disamakan dengan rasa takut. Padahal keduanya merupakan hal yang beberda. Takut adalah respon emosional terhadap ancaman yang nyata. Sedangkan cemas adalah perasaan tegang, gelisah, khawatir, dan bimbang yang bersifat subjektif (belum  tentu ada objeknya). Gangguan kecemasan ini bisa termanifestasikan dalam bentuk gejala fisik, emosi, dan pikiran. (Pijar Pisokologi, 2018)

Kecemasan adalah kondisi kejiwaan yang penuh dengan kekhawatiran dan ketakutan akan apa yang mungkin terjadi, baik berkaitan dengan permasalahan yang terbatas maupun hal-hal yang aneh. Deskripsi umum akan kecemasan yaitu “perasaan tertekan dan tidak tenang serta berpikiran kacau dengan disertai banyak penyesalan”. Hal ini sangat berpengaruh pada tubuh, hingga tubuh dirasa menggigil, menimbulkan banyak keringat, jantung berdegup cepat, lambung terasa mual, tubuh terasa lemas, kemampuan berproduktivitas berkurang hingga banyak manusia yang melarikan diri ke alam imajinasi sebagai bentuk terapi sementara ( Musfir, 2005: 512).

Menurut Sigmund Freud, kecemasan dibagi menjadi tiga macam, yakni:

A. Kecemasan objektif atau Kenyataan.

Kecemasan obyektif adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah sikap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya. Pengalaman bahaya dan timbulnya kecemasan mungkin dari sifat pembawaan, dalam arti kata bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada di dekat dengan benda-benda tertentu atau keadaan tertentu dari lingkungannya. Contohnya: 

  1. Seorang anak yang takut akan kegelapan,
  2. Seseorang pengendara yang takut akan bahayanya mengendarai kendaraan tanpa rem.
  3. Seseorang yang menghadapi ujian akhir,
  4. Pasangan dewasa yang akan memasuki jenjang pernikahan.

B. Kecemasan Neurotis (saraf)

Kecemasan ini timbul karena pengamatan tentang bahaya dari naluriah.Sigmund freud sendiri membagi kecemasan ini menjadi 3 bagian:

  1. Kecemasan yang timbul karena penyesuaian diri dengan lingkungan. Kecemasan semacam ini menjadi sifat dari seseorang yang gelisah, yang selalu mengira bahwa sesuatu yang hebat akan terjadi,
  2. Bentuk ketakutan yang tegang dan irasional (phobia). Sifat khusus dari phobia adalah bahwa, intensitif ketakutan melebihi proporsi yang sebenarnya dari objek yang ditakutkannya. Seperti contoh kasus yang saya alami, bahwa setiap melihat atau bahkan menuliskan buah “Rambutan”, maka bulu kuduk saya akan berdiri dan merinding dibuatnya,
  3. Reaksi gugup atau setengah gugup, reaksi ini munculnya secara tiba-tiba tanpa adanya provokasi yang tegas.

C. Kecemasan Moral

Kecemasan moral disebabkan karena pribadi seseorang. Tiap pribadi memiliki bermacam macam emosi antar lain: iri, benci, dendam, dengki, marah, gelisah, dan lain-lain. Sifat sifat seperti itu adalah sifat-sifat yang tidak terpuji, bahkan mengakibatkan manusia akan merasa khawatir, takut, cemas, gelisah dan putus asa. Contohnya: 

  1. Seseorang yang merasa kecantikannya ditandingi oleh lawannya, oleh karena itu ia merasa dengki, ataupun membencinya, atau,
  2. Seseorang akan merasakan kecemasan jika ia tidak mampu mengurus orang tuanya ketika ia dewasa nanti.


Meskipun kecemasan menyakitkan dan orang mungkin mengharapkan untuk menghapuskannya, tetapi ia melakukan fungsi yang sangat perlu untuk memperi gatkan seseorang tentang adanya bahaya dari dalam atau dari luar. Kalau sudah diperingatkan, ia dapat berbuat sesuatu untuk menolak atau menghindarkan bahaya itu. Sebaliknya, kalau bahaya itu tidak dapat di hindarkan, kecemasan dapat bertumpuk dan akhirnya menguasai orang tersebut. Jika ini terjadi, maka dikatakan bahwa orang tersebut terganggu syarafnya.

Disini, Di Warung Kopi

Malam ini sangat berkesan bagiku, karena akhirnya aku dapat menyempatkan diri ke tempat yang sudah lama ingin aku kunjungi. Tempat tersebut adalah sebuah warung kopi milik keluargaku yang terletak di pusat kota Cianjur, warung kopi ini dinamai Sukajanda. Kenapa dinamai Sukajanda? Sukajanda adalah sebuah akronim dari SUmatera, Kalimantan, Aceh, Jawa, bAli, dan suNDA. Singkatnya, Warkop Sukajanda menyajikan kopi dari berbagai daerah di Indonesia.

Lantas mengapa aku memberikan predikat tempat ini sebagai tempat yang amat spesial? Sebab dulu tempat ini menjadi saksi tentang penantian panjang dari bertahun-tahun tanpa kabar dan berbulan-berbulan mencari seseorang yang telah hilang dari pandanganku dan akhirnya tempat ini aku dan dia dipertemukan. Pandanganku tentang wanita berubah drastis saat dia ada di hadapanku, meskipun perjumpaan kami sederhana tidak sedramatis apa yang di utarakan para pujangga. Meski begitu, Dia adalah bukti kuasa tuhan yang tidak dapat di gambarkan susastra. Senyumannya menghapus luka yang sudah lama menghiasi hati, trauma akan cinta perlahan mulai surut dan dia adalah alasannya. Dan tanpa sengaja aku terpukau dengan lukis senyum pertama yang ia lemparkan begitu saja kepadaku, harum mewangi parfum yang ia gunakan seakan membius pusat syaraf, dan tak luput adalah auranya yang menyejukan jiwa.

Siang itu, ia memesan segelas susu dingin sementara aku memesan secangkir kopi panas. Aku masih ingat jelas disitu, ia bercerita tentang masa putih merah yang telah kami lalui bersama dengan penuh kenangan hingga ceritanya tentang perjalan hidupnya hingga ke masa putih abu. Dan jelas dalam ceritanya di masa putih abu itu tanpa adanya keterlibatan aku didalamnya, sebab aku telah diungsikan ke Purwakarta oleh keluargaku.

Tempat ini sangat berkesan; tempat ini adalah tempat favorit untuk dikunjungi dikala kami memiliki waktu senggang. Tempat ini juga menjadi saksi dikala aku menjadi pendengar setianya, menjadi pendengar cerita-cerita menakjubkannya. Suaranya masih menggema diantara sudut-sudut ruangan, ceritanya masih beterbangan di aroma kopi yang semerbak mewangi, dan di malam ini kami kembali menyinggahi tempat ini dengan perasaan yang tetap sama meski pernah merenggang. Merasakan kembali semua euforia yang pernah meledak-ledak dalam kedua tangan yang kembali saling menggenggam. Kami kembali dengan perasaan yang sama namun dengan cerita yang baru. Disini, ditempat ini aku mempersilahkan ia menceritakan segala yang ada di kepala dan hatinya, sebab aku yakin tempat ini sudah ditakdirkan untuk menjadi tempat yang berpredikat spesial didalam sanubari. 

Maka, biarkanlah aku menikmati indahnya malam ini bersama kenangan-kenangan yang bertebaran menghiasi seisi tempat. Secangkir kopi dan rokok Garam Filter kembali menjadi teman malam ini. Dengan memagut secangkir kopi dan menghisap sebatang rokok, aku dapat meresapi kenangan manis tersebut dengan mudahnya. Kopi dan ia, mereka saudara kembar. Dua-duanya keras kepala perihal rasa.

Sampingan

‘Kepo’lah pada tempatnya!

Akhir-akhir ini seringkali saya temui manusia-manusia yang sindrom Kepo-nya kebangetan. Dikutip dari Kompasiana, “Kepo adalah akronim dari Knowing Every Particular Object yang artinya sebutan untuk orang yang serba ingin tahu dari detail sesuatu baik yang kalau ada yang terlintas dibenaknya dia tanya terus. Hal-hal sepele ditanyakan, serba ingin tau, pengen tau urusan orang lain dan sebagainya. ”

Menurut saya sah-sah saja sih kepo itupun jika hal yang akan di tanyakan ada sangkut pautnya dengan si manusia kepo tersebut. Namun jika tidak ada sangkut pautnya lebih baik untuk tidak terlalu mencampuri karena tiap orang memiliki privasi masing-masing yang tak pantas juga untuk diusik, siapapun anda dimata orang tersebut.

Karena menurut saya sebagai manusia yang pernah di-kepo-in sampai ke masalah yang sangat bersifat sensitif, sikap kepo dikatakan positif jika seseorang tidak berlebihan untuk mencari tahu masalah atau pribadi orang lain dan dengan tujuan yang baik juga bersifat negatif jika seseorang ini sudah keterlaluan ingin tahu masalah pribadi orang lain, sehingga sampai mengganggu dan menimbulkan masalah bagi orang lain.

Dilansir dari PsyLine, “biasanya sifat ini dipicu oleh beberapa hal yaitu:

  1. Ingin diakui,
  2. Ingin berempati,
  3. Ingin terlibat,
  4. Ingin mendadapat informasi,
  5. Ingin akrab.”

Meski jika dilihat dari pemicunya merupakan hal yang wajar, bahkan terkesan positif. Namun saat dilakukan secara berlebih apalagi sampai melewati batas seperti yang dilakukan orang-orang kepo tetap saja jatuhnya jadi mengganggu.

Seseorang jika menganggap bahwa anda penting atau sudah merasa sangat dekat dengan anda dan merasa bahwa anda mampu menjaga semua masalah-masalahnya tanpa diiringi rasa takut jika suatu saat anda mengangkat masalah seseorang tersebut ke publik. Tanpa harus anda suruh, dia akan cerita tentang masalahnya dengan sendirinya, dengan sepenuhnya tanpa ada yang di sembunyikan sedikit pun. Selama saya hidup di bumi yang fana ini, saya tidak pernah memberanikan diri untuk menanyakan hal yang memang bukan zona saya. Tidak etis buat saya untuk masuk kedalam hidup orang, meskipun orang itu misalnya adalah teman karib saya yang saya kenal sudah lama. 

Saya lebih suka menawarkan diri daripada memasukan diri kedalam hidup seseorang karena saya yakin jika seseorang memang ingin cerita tentang masalahnya, dia akan bercerita dengan sendirinya tanpa harus saya tanya terlebih dahulu. Jika seseorang yang saya kenali dengan baik sedang dalam masalah, saya lebih suka untuk menghiburnya, mendampinginya dan membuatnya lupa tentang masalahnya walaupun hanya sementara daripada saya memaksakan masuk dan mengusik masalahnya.

Kesimpulannya, kepo lah pada tempat dan waktu yang tepat. Agar ke-kepo-an kita membawa manfaat, bukan sebaliknya.

Aku, Kamu; Kita

Tiada yang lebih indah dari dua hati yang sudah terlanjur saling membenci kemudian mengesampingkan egonya masing-masing untuk saling memaafkan. Bukan tentang siapa yang dulu banyak salahnya, bukan juga tentang siapa yang dulu banyak baiknya. Kini kita telah kembali meleburkan hati menjadi satu, tidak usahlah membahas kenangan yang dulu menjadi genangan di mata indahmu. 

Aku telah belajar banyak hal disaat aku melangkah tanpa adanya dirimu. Aku belajar mandiri darimu, mengatur segala sesuatu dalam hidupku dengan cara bijak, melihat semuanya dari segala sudut dan dari setiap baik-buruknya, dan aku juga belajar menggantungkan hidupku hanya pada diriku saja. Melakukan semuanya sekecil mungkin tanpa merepotkan dan mengganggu orang-orang disekitarku. Mandiri pun juga membuatku mengenal lingkungan di sekitarku, belajar berinteraksi dengan beragam karakter orang-orang dan dengan latar belakang yang berbeda-beda, meninggikan toleransi yang ada dari setiap kesenjangan yang ditemui. Mandiri juga mengartikan bahwa hidup ini hanya pada Allah saja sebagai tempat bergantung.

Lalu setelah itu, aku belajar darimu akan pentingnya sebuah silaturrahim. Mengenal lebih dekat lingkungan sekitar, memberi pertolongan jika dibutuhkan. Mengenal kehidupan mereka, dan segala lika-likunya. Memahami bahwa kerja keras mereka yang menghantarkan mereka menuju kesuksesan dan juga tetap harus menjaga perasaan mereka jika ada hal-hal yang tidak disukai darinya.

Aku selalu mengenang segala kebaikan yang kau ajarkan padaku dengan sabar, dengan perlahan, dengan kata-kata yang lembut dan penuh motivasi, kau selalu mengajakku untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sampai akhirnya, di ujung perjalanan, aku merasa hampa. Tiada hati yang ku rasa pas untuk menampungku, menampung semua cerita-cerita yang aku miliki, menampung semua keluh kesah yang ingin aku utarakan, menampung semua harapan²ku yang terkadang tidak bernalar. Kadang jua aku merasa, aku takkan mungkin dapat memulai hubungan baru. Memulai semua dari awal lagi, yang akan membuang waktuku secara sia-sia. Di akhir perjalananku tanpamu, aku memberanikan diri untuk memperbaiki hubungan kita terutama kamu. Kamu yang berpengaruh dalam hidupku. Selain untuk mengucapkan maaf, aku ingin mengatakan bahwa, tanpa kau sadari, caramu mengajariku begitu indah.

Aku tak mengharapkan kau untuk kembali selepas kau memutuskan untuk mengakhiri kisah kita. Sebab, aku percaya kau akan kembali dengan sendirinya tanpa harus ku paksakan untuk pulang. Dengan kenangan yang sukar untuk dilupakan, dengan hati yang masih ingin menyatu, atau dengan rindu yang pernah kubuat tanpa disengaja. Biarlah dulu aku yang membuatmu merindu dengan cara yang tanpa belas kasihan karena kini akan ku sembuhkan semua kerinduanmu dengan penuh kasih dan sayang.

Atas nama dua hati yang kembali dipertemukan untuk kembali saling mencintai, saatnya kita berpegang kembali pada janji yang dulu sempat terucap. Bentangan jarak dan waktu bukan halangan. Rindu telah membawamu pulang.

Mendekat untuk Menjauh

Dulu sekali waktu saya masih berseragam putih-abu, saya pernah menyukai seseorang dengan hebatnya dan hal itu membuat si orang saya sukai merasa risih, hingga sempat menarik diri. Entah karena saya yang terlalu agresif mengejar si orang yang saya sukai agar ia menyukai saya balik atau entah karena pikiran saya terhadap cinta masih terbilang ortodoks atau bahkan primitif dengan menganggap semua perhatian yang ia tunjukkan karena dia memang menyukai saya.

Wajar jika seseorang yang masih minim pengalaman mengenal antara suka dan disukai masih memiliki pandangan yang ortodoks terhadap obyek yang ia sukai akan tetapi alangkah baiknya untuk terlebih dahulu mengenali sifat si obyek tanpa tergesa-gesa. Memahami bagaimana tingkah laku si obyek yang kita sukai kepada orang lain, apakah sama ketika dia memperlakukan kita seperti dia memperlakukan banyak orang? apakah perhatian yang si obyek berikan sama seperti dia memberikan perhatian ke banyak orang? Memahami hal kecil seperti itu berguna untuk kebaikan diri sendiri, agar tidak merasakan kerancuan persepsi terhadap perhatian si obyek yang dapat menyebabkan hancurnya harapan kita, itupun jika anda sudah terlanjur menaruh harap terhadap obyek yang anda sukai.

Setelah kita dapat memahami sifat obyek yang kita sukai, kita dapat menyimpulkan bahwa si obyek itu sifatnya seperti apa?, apakah si obyek tersebut memberikan perhatian sebatas untuk menjalin hubungan pertemanan atau bisa jadi untuk menjalin sesuatu yang lebih dari hubungan pertemanan. Seperti sebuah petuah yang pernah saya baca, “Mendung belum tentu hujan, perhatian belum tentu suka”

Jadi alangkah baiknya untuk mengenali terlebih dahulu daripada berakhir sebagai sebuah pengalaman hidup yang memalukan sekaligus memilukan.

Berbeda halnya jika kita sudah terlanjur menaruh harap terhadap obyek yang kita sukai. Menurut pengalaman pribadi saya waktu itu, di waktu saya sedang dibodohi oleh perasaan saya melakukan hal yang terkesan aneh yakni berusaha lebih mendekatinya sebab dari usaha mendekati tersebut, suatu saat saya akan merasa bosan dengan sendirinya. Bosan karena telah memahami seluk beluk perasaannya, memahami sifat asli dari si obyek. Rasa bosan tersebut membuat saya dapat menyekat jarak antara saya dengan si obyek tersebut hingga pada akhirnya saya dapat mundur secara teratur, dan lebih parahnya dari usaha yang pernah saya lakukan ini membuat si obyek seperti tak ingin merasa jauh atau bisa dikatakan dia merasa bahwa saya memang serius untuk mendapatkannya. Sebab, perasaan berubah menyesuaikan kebutuhan dan hati seiring berjalannya waktu.

Jadi untuk anda, siapapun itu, yang masih terjebak dalam kondisi yang membikin hati tak karuan ini untuk segeralah insyaf dan membuat si obyek berbalik menginginkan kehadiran anda. Karena, kejadian yang pertama sebut sajalah sebuah tragedi dan kejadian kedua yang merupakan repetisi dari kejadian pertama sebut sajalah sebuah komedi yang terus anda ulang meskipun anda tahu, hal itu tidak berguna. 

Rusaji

Hidup memang aneh, ada yang bangga merasakan menggila dan ada yang di kucilkan karena merasakan berjiwa. Harusnya tiada sekat diantara si menggila dan si berjiwa. 

Orang-orang yang merasakan berjiwa seharusnya tidak perlu untuk di kucilkan atau di jauhi, mereka sebenarnya butuh pertolongan. Lagian bagaimanapun mereka tak ingin merasakan berjiwa dikala banyak yang dengan bangga merasakan menggila. Semua rasa telah gila dan gila pun merasakan punya jiwa, jadi tak selayaknya bagi saya untuk menyampingkan orang² yang merasakan berjiwa.

Suatu pagi yang diiringi cucuran hujan yang amat derasnya saya disempatkan untuk mengunjungi Rusaji Provinsi Jawa Barat dengan ditugaskan mengantar kerabat saya yang juga merasakan Berjiwa walau bisa di bilang hanya soal Kecemasan yang berlebihan. Tempat itu terletak di Jl. Kolonel Masturi No.KM.7, Jambudipa, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat; sebuah tempat yang notabene-nya dianggap tempat mengerikan dan menakutkan bagi orang² awam, namun bagi saya ini adalah tempat terbaik di muka bumi yang menyatukan si yang merasakan Menggila dan si yang merasakan Berjiwa.

Baru saja saya menghentakkan kaki di Rusaji tersebut, saya di suguhi pemandangan yang jarang saya dapati di tempat yang biasa saya kunjungi sebelumnya; orang² Berjiwa yang berlalu lalang dengan tatapan kosong, ada yang bercengkrama dengan dirinya sendiri, dan bahkan ada yang tanpa kenal menyapa saya dengan senyum ramahnya. Hal itu malah menjadi magnet buat saya dan semakin menguatkan pertanyaan: Mengapa orang-orang yang Berjiwa bisa sampai ada disini sementara orang² yang Menggila bisa bebas berkeliaran di dunia luar?

Akhirnya, di sebuah lorong Rusaji tersebut saya melihat seorang lelaki paruh baya yang termenung sendiri diantara keramaian. Rasa penasaranlah yang akhirnya membulatkan langkah saya untuk mendekati si lelaki tersebut. Gaya bicaranya biasa seperti orang-orang yang menggila, namun ketika saya menanyakan namanya, beliau sedikit kebingungan walau lambat laun akhirnya beliau bisa mengetahui identitas dirinya. 

Percakapan kami terkesan lancar hingga akhirnya saya mulai menanyakan “Bapak diantar sama siapa kesini? Kok sendirian?” Beliau menjawab, “Saya sendiri dari Garut, keluarga gaada yang mau menemani.” Sungguh ironis. Disaat orang yang Berjiwa memang membutuhkan partner, entah itu dari keluarga atau teman mereka malah lenyap seakan tak peduli, hati saya seakan menjerit mendengarnya mungkin ini gambaran asli dari sebuah tulisan yang pernah saya baca di pinggiran kota yang bertuliskan,”Selalu diajarkan tentang ketuhanan, sampai lupa apa itu kemanusiaan.” Namun diantara kesedihan dan kesendiriannya melawan sakit yang di derita beliau sempat menanyakan, “Siapa yang sakit dek?” Sebuah pertanyaan sederhana sarat makna yang terlontar begitu saja dari mulut beliau yang merasakan berjiwa namun dikucilkan. Saya lalu menjelaskan alasan saya kemari dengan tujuan mengantar kerabat saya yang senasib dengannya. Beliau lalu bercerita tentang hal yang melatarbelakangi beliau hingga sampai di tempat ini, ternyata yang melatarbelakanginya adalah ketergantungan beliau terhadap obat²an terlarang yang merusak kesadaran beliau secara perlahan dan waktu pun mengakhiri obrolan kami, sebelum pamitan saya menyempatkan diri mencium tangan dan memeluk beliau serta mendoakan yang terbaik terutama perihal kesehatan beliau karena saya rasa orang yang merasakan berjiwa sama seperti orang biasa, mereka hanya butuh untuk di dukung agar bisa kuat melawan apa yang mereka derita.

Banyak hal yang bisa melatarbelakangi seseorang hingga merasa bahwa dirinya berjiwa. Umumnya disebabkan oleh faktor genetik, faktor lingkungan sekitar atau perpaduan beberapa faktor; Pernah mengalami kejadian traumatis, menggunakan obat²an terlarang, menjalani hidup penuh tekanan, mengalami kerusakan otak, memiliki penyakit kronis, dan yang terakhir memiliki sedikit teman atau bahkan tidak memiliki teman; merasa sendiri.

Jadi, sudah sepatutnya sebagai manusia untuk memanusiakan manusia dan memahami manusia sebagai manusia, entah itu manusia yang dengan bangga merasakan Menggila ataupun manusia yang merasakan Berjiwa, karena kita semua setara sebagai manusia.